Ketika Anda membaca judul ini pasti akan banyak sekali literature yang bercerita tentang hal ini, leader as role model.

 Ada cerita dari seorang fasilitator yang kelasnya pernah saya ikuti. Kalau mau melihat perilaku sebuah perusahaan lihat saja perilaku bosnya. Ceritanya begini, ada seorang atasan yang ketika jam istirahat siang akan keluar kantor, sang atasan memberitahu sekretarisnya untuk meminta supirnya stand by di lobby segera. Sekretaris menjawab, “Kan si A lagi makan siang sekarang Pak” Atasan malah menjawab “Saya tidak mau tahu, suruh si A saat ini juga stand by di lobby segera”. Dan seketika sekretaris menelpon bagian General Service untuk meminta supir A stand by di lobby. General Service menjawab, “Si A lagi makan siang, Mbak”. Sekretaris kembali menjawab, “Saya tidak mau tahu, suruh si A saat ini juga stand by di lobby segera”. Mendengar jawaban dari Mbak Sekretaris, General Service langsung menelepon Supir A. Supir A berkata, “Sebentar Pak, saya sedang makan siang” dan Anda tau jawaban General Service? Yaa Anda benar, General Service akan menjawab, “Saya tidak mau tahu, suruh si A saat ini juga stand by di lobby segera”. Yaaa…. begitulah, beberapa orang kadang suka berkata ketika mau melihat perilaku orang-orang yang ada dalam perusahaan, lihatlah perilaku atasannya terlebih dahulu, seperti cerita di atas tadi walau tidak semuanya seperti itu tergantung dari perpekstif kepemimpinan mana yang kita gunakan.

Menurut McShanne dan Von Glinow (2010) yang diambil dari buku Corporate Culture In Action-nya Andreas Budiharjo, ada lima perspektif kepemimpinan dilihat dari competency, behavior, contingency, transformational vs transactional serta implicit:

  1. Perspektif competency menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif harus memilki kompetensi tertentu di antaranya integritas, emotion intelligence, kepribadian ekstrovert, konsep diri yang kuat dan bermotivasi.
  2. Perspektif behavior pada dasarnya membahas gaya kepemimpinan berdasarkan dua dimensi manusia dan tugas pokok.
  3. Perspektif contingency membahas bahwa keefektifitasan gaya kepemimpinan dipengaruhi oleh situasi lingkungan, tugas, dan kondisi bawahan.
  4. Perpektif transformational yang akan membas pemimpin memilki visi jauh ke depan, mengkomunikasikannya, memberi contoh dan mentranformasi visi kepada bawahannya. Sedangkan transactional leadership lebih menekankan kemampuan pemimpin dalam memotivasi dan mengarahkan bawahannya dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan.
  5. Perspektif implicit membahas bahwa kepemimpinan ditinjau dari persepsi pengikutnya yang pada dasarnya berkaitan dengan faktor stereotyping, atribusi, dan ekspektasi.

Sekarang tergantung diri kita perilaku apa yang akan kita bawa ke organisasi, karena kita semua adalah pemimpin, pemimpin untuk diri kita sendiri, senantiasa memberikan contoh yang baik adalah tugas kita bersama selaku leader as role model.