Untuk ketujuh kalinya, Indonesia Human Capital Studi (IHCS), digelar. Ajang studi Human Capital paling komprehensif di Indonesia terkait pengelolaan human capital di organisasi ini, diselenggarakan oleh Dunamis Human Capital dan Majalah BusinessNews Indonesia, serta didukung oleh FHCI (Forum Human Capital Indonesia), PMSM Indonesia (Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia Indonesia), SBM ITB (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB), Prasetya Mulya Business School, Sekolah Bisnis IPB, dan ASBANDA (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah).

IHCS merupakan kegiatan studi mengenai Human Capital Management System (HCMS), untuk mengukur tingkat keselarasan dan keefektifan Human Capital Management System di organisasi. Proses studi dan sharing dalam IHCS 2016, telah berlangsung selama 5 bulan, sejak April hingga Agustus 2016.

Puncak kegiatan IHCS terdiri dari (a) Presentasi & Sharing tentang keunggulan Human Capital Initiatives, (b) Pemaparan hasil studi IHCS, serta (c) Pemberian Apresiasi IHCS kepada perusahaan yang memiliki banyak keunggulan dalam pengelolaan HCMS-nya, dan dinilai layak untuk direkomendasikan atau diterapkan di perusahaan lain.

Acara puncak IHCS 2016, diselenggarakan di Rafflesia Grand Ballroom Balai Kartini Jakarta, Kamis (8/9/2016). Pada acara puncak IHCS 2016 yang memiliki tema “Employee Engagement: The Drive To Key Result” tersebut, berbagai perusahaan dari 10 sektor industri di Indonesia, berhasil memperoleh Apresiasi IHCS 2016, antara lain: Telkom, FIFGROUP, Enseval, United Tractors, Bank BTN, BPJS Ketenagakerjaan, PT PP, PLN, Puninar Logistic, Wijaya Karya, Semen Indonesia, Pembangkitan Jawa Bali, BFI Finance, Asuransi Jasa Indonesia, Indonesia Power, serta beberapa BPD dan perusahaan lainnya.

Dalam IHCS 2016 ini, Dewan Studi menetapkan Dr. (HC) Ir. Ciputra, sebagai penerima apresiasi Lifetime Achievement, atas peran dan kontribusinya dalam pengembangan Human Capital, Kepemimpinan dan Entrepreneur.

Selain itu, ada 11 CEO yang dinobatkan sebagai Best CEO Commitment on Human Capital. Apresiasi Best CEO Commitment ini ditetapkan, setelah Dewan Studi melakukan wawancara dan pendalaman secara langsung terkait kepedulian dan dukungan CEO terhadap pengembangan Human Capital di perusahaannya. Sebelas CEO tersebut adalah CEO Telkom, PT PP, BPJS Ketenagakerjaan, FIFGROUP, Bank BTN, WiJaya Karya, PGN, Tower Bersama, Enseval, dan Polychem.

Chief of HCMS Dunamis Human Capital, Muhammad Hamdani menjelaskan bahwa, IHCS merupakan ajang pertukaran informasi dan benchmarking antar para praktisi Human Capital, terutama di era pengetahuan dan informasi saat ini.

Hasil studi IHCS diharapkan akan menjadi benchmark terhadap pendekatan, proses, dan hasil dari pengembangan Human Capital Management System di organisasi-organisasi di Indonesia sehingga proses pembelajaran dan transformasi yang dilakukan dapat berjalan lebih cepat untuk mendukung strategi organisasi. Hal ini dikarenakan melalui pengelolaan Human Capital yang efektif dan selaras dengan strategi organisasi, para praktisi Human Capital semakin memantapkan posisi strategisnya sebagai business partner dalam mendorong laju pertumbuhan organisasi di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dan juga di masa yang akan datang.

Melalui studi IHCS, diperoleh Human Capital Index Norm dari 10 sektor industri di Indonesia. Selain itu, organisasi-organisasi dapat mengetahui sejauh mana mereka telah memenuhi ekspektasi dari para karyawannya. Dengan adanya Norm dan hasil survei mengenai organisasi dan pengelolaan Human Capital-nya, maka organisasi-organisasi di Indonesia dapat menetapkan tolak ukur dan arah perbaikan yang perlu dilakukan dalam aspek Human Capital, guna mendukung perkembangan bisnis di Indonesia.

“Oleh karena itu, kita memandang penting untuk melakukan studi ini secara rutin setiap tahunnya dan mengajak organisasi-organisasi lain untuk turut serta sebagai peserta, agar para praktisi Human Capital di Indonesia dapat terus ter-update dengan trend-trend yang terjadi dalam pengelolaan Human Capital dan memudahkan CEO dalam mengambil keputusan dari usulan-usulan pengembangan Human Capital di organisasi” jelasnya.

Menariknya, dalam studi ini ditemukan fenomena entitas bisnis tetap berkonsentrasi dalam pengembangan Human Capital (HC) walau kondisi makro ekonomi hingga pertengahan 2016 belum tumbuh sesuai harapan. Hal itu terlihat dari perusahaan perusahan yang mengikuti IHCS 2016 tetap memandang penting pengembangan HC, beberapa indikator membuktikannya.  Pertama rasio development rate naik 7,5 % (y0y) dari indeks 64,2% menjadi 71,7% dan training investment naik dari 4.7 juta menjadi 5.1 juta perkaryawan. Hal ini juga di dukung oleh para CEO yang mengetakan bahwa prioritas utama mereka adalah meningkatkan Human Capital (skor 8.8) yang kemudian baru diikuti oleh Customer Relationship Management (skor 6.5) dan Operational Excellence (skor 6.3).

 

Hal lain yang menarik dari studi ini adalah meningkatnya usaha-usaha organisasi untuk mengembangkan program talent management yang dimulai dari mengidentifikasi, mengembangkan dan mempertahankan para talenta terbaik perusahaan. Hal ini bisa dilihat dari menurunnya turn over dari karyawan bertalenta dari tahun ketahun yaitu sebesar 35.5%. Khusus untuk Industri Pembiayaan dan Perbankan , dalam kondisi persaingan yang semakin tinggi dan kondisi ekonomi makro yang belum pulih, voluntary turn over karyawan yang cukup tinggi (13.3% dan 7.3%) menjadi suatu tantangan teresendiri.  Untuk itu perusahaan pembiayaan dan perbankan harus terus meningkatkan engagement karyawannya melalui reward management yang kompetitif dengan mempertimbangkan internal dan eksternal equity, pembelajaran dan kesempatan peningkatan karir karyawan” ujar dia.

 

Proses Studi & Apresiasi IHCS 2016

Ketua Penyelenggara IHCS 2016, Moh. Lutfi Handayani, MM., MBA., mengatakan bahwa apresiasi yang diberikan pada acara puncak tersebut diberikan melalui serangkaian proses studi yang sangat komprehensif berlangsung selama 5 bulan, sejak bulan April hingga Agustus 2016.

Proses studi IHCS, dilakukan secara lengkap dan mendalam dengan melihat dari 3 perspektif sekaligus, yakni perspektif Shareholder (Pemegang Saham), Management, dan Employee (Karyawan). Dengan demikian, hasil dari studi ini dapat dijadikan feedback bagi pengembangan Human Capital Management System (HCMS) di perusahaan-perusahaan.

Proses studi diawali dengan: (a) Pengisian data kuesioner HC Index yang mengintegrasikan kinerja bisnis dan Human Capital, (b) Employee of Survey (EOS) yang berisi tentang Employee NPS dan Engagement yang diisi langsung oleh karyawan secara online; (c) Presentasi HC Initiatives oleh human capital director/ Management dihadapanDewan Studi yang terdiri dari para Konsultan Dunamis & BusinessNews Indonesia, serta pakar, praktisi, dan akademisi Human Capital.

Setiap perusahaan yang menjadi peserta IHCS, mendapatkan banyak manfaat, diantaranya adalah (1) dapat mengukur tingkat keselarasan dan keefektivitaan HCMS-nya, (2) mendapatkan 2 report, yakni general report dan specific report IHCS 2016, (3) dapat mengikuti sharing presentasi HC dari perusahaan lain (yang bukan kompetitornya). “Kita dapat saling berbagi dan belajar dari pengelolaan HC seperti Telkom (Digital Business Company) dan beberapa perusahaan mapan lainnya”, ujar salah satu peserta IHCS 2016 dengan penuh antusias.

Kegiatan IHCS ini sangat penting bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis kedepan, terutama untuk mempersiapkan Human Capital yang berdaya saing global menuju era digital transformation.

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai IHCS dapat menghubungi:

Anesti Adiratna | anesti@dunamis.co.id

Hp. 087770944955